Jumat, 10 Januari 2020


MAKALAH FISIKA
SINYAL






GURU PEMBIMBING
Eka Gusman., S.Si

DISUSUN OLEH KELOMPOK 1
1. TESYA AYU RAISA
2. PUTRI REGINA ABIMANYU
3. REVI MARISKA
4. ALFINA BERLIANTI



MADRASAH ALIYAH NEGERI 3 PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2020/2021


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa Atas Berkat dan rahmatnyalah kami bisa menyelesaikan tugas Makalah ini dengan Tepat waktu.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas akademik Pendidikan Fisika tahun ajaran 20202021. Adapun topik yang dibahas didalam makalah ini adalah mengenai sinyal.            Makalah ini akan memperdalam pengetahuan kita tentang sinyal.
Sinyal adalah suatu besaran fisis yang berubah terhadap waktu, ruang, ataupun dapat berubah terhadap variabel bebas lainnya, yang dimaksud dengan variabel bebas disini adalah sinyal dapat dikatakan sebagai sinyal kontinyu (dinyatakan dengan x(n)), sinyal diskrit (dinyatakan dengan x(t)), dan lain-lain
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Eka Gusman., S.Si . sebagai guru  pembimbing yang telah membimbing penulis didalam menyusun makalah ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi untuk tersajinya makalah ini.
Kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, hal itu dikarenakan keterbatasan yang ada. Sehingga kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca.
Kiranya makalah ini memberikan banyak manfaat bagi kehidupan kita semua. Sehingga permasalahan sinyal dapat diketahui.. Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.






Palembang 08 januari 2020


penulis







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................
DAFTAR ISI.............................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................................
2.1 Pengrtian sinyal dan digital .................................................................................................
2.2 pengelompokkan sinyal........................................................................................................
2.3 sinyal digital.........................................................................................................................
2.4 sinyal kuat............................................................................................................................
2.5 sinyal lemah .........................................................................................................................
2.6 konversi digital anaog dan enalog ke digital .......................................................................
2.7 contoh contoh sinyal
BAB III PENUTUP .................................................................................................................
3.1 Kesimpulan...........................................................................................................................
KATA PENGANTAR...............................................................................................................

















BAB I

PENDAHULUAN

1.1                   Latar Belakang
                       Dalam era modern sekarang ini, istilah digital tentu sudah tidak asing lagi di telinga. Hampir semua peralatan elektronik di sekitar kita saat ini telah menggunakan sistem digital dalam pemrosesannya. Sistem digital ini salah satunya digunakan dalam  pemrosesan sinyal, yang biasa dikenal dengan sinyal digital. Istilah sinyal digital merupakan istilah dari suatu teknologi yang mengubah suatu sinyal analog menjadi menjadi data digital sehingga sinyal dapat diproses lebih mudah dan cepat. Istilah digital sendiri adalah suatu sistem yang hanya mengenal dua kondisi. Dua kondisi tersebut biasanya diwakili oleh angka nol dan satu, on dan off, maupun yang lainnya. Satuan terkecil dari sinyal digital adalah bit.
 Terdapat beberapa alasan mengapa sinyal digital digunakan. Alasan yang  pertama karena pemrosesan sinyal menggunakan sistem digital terprogram memiliki fleksibilitas dalam pemrosesan. Pada sistem digital, untuk mengubah suatu proses hanya dibutuhkan pengubahan program saja. Sedangkan jika menggunakan sistem analog,  perubahan proses berarti mengubah setting dari perangkat keras untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Selain masalah yang telah disebutkan di atas, ketelitian dan akurasi juga merupakan hal yang penting dalam memproses suatu sinyal. Pengolahan sinyal menggunakan sistem sinyal digital memiliki pengendalian dan akurasi yang lebih baik jika dibandingkan dengan pemrosesan dengan menggunakan sistem analog.
 Faktor toleransi yang terdapat pada sistem sinyal analog seringkali menimbulkan kesulitan pengendalian akurasi proses. Salah satu persyaratan yang dibutuhkan untuk menentukan akurasi pada sistem sinyal digital antara lain penentuan akurasi pada konverter analog ke digital (A/D).
Sinyal-sinyal digital dapat disimpan pada media magnetic tanpa mengalami  pelemahan atau distorsi data sinyal yang bersangkutan. Dengan demikian sinyal tersebut dapat dipindah pindahkan serta diproses dengan mudah tanpa terlalu banyak mengurangi kualitas data. Metode-metode pemrosesan sinyal digital juga membolehkan implementasi algoritma-algoritma pemrosesan sinyal yang lebih canggih. Umumnya sinyal dalam bentuk analog sulit untuk diproses secara matematik dengan akurasi yang tinggi.
Kelebihan lain dari sistem sinyal digital ini adalah biaya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan sinyal analog dalam pemrosesannya. Kelebihan-kelebihan pemrosesan sinyal digital yang telah disebutkan di atas menyebabkan pemrosesan sinyal digital lebih banyak digunakan untuk berbagai aplikasi dalam kehidupan sehari-hari dan telah menjadi suatu kebutuhan yang hampir tak bisa dipisahkan dari gaya hidup manusia modern saat ini. Adapun beberapa contoh  penggunaan sinyal digital misalnya aplikasi pengolahan suara pada kanal telepon,  pemrosesan citra serta transmisinya, dalam bidang seismologi dan geofisika, eksplorasi minyak, deteksi ledakan nuklir, pemrosesan sinyal yang diterima dari luar angkasa.

1.2                          Perumusan Masalah
 Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan antara lain:
 1. Pengertian tentang sinyal dan Digital
2. Sinyal Digital dan Aplikasinya

1.3                    Tujuan Penulisan makalah
 Penulisan makalah ini bertujuan untuk :
1. Agar Mahasiswa/i mengetahui apa perbedaan sinyal analog dan sinyal digital 2. Agar Mahasiswa/i lebih dalam memahami tentang sinyal digital
3. Agar mahasiswa/i dapat mengetahui apa saja aplikasi dari sinyal digital di kehidupan.
























BAB II
PEMBAHASAN

2.1 . Pengertian Sinyal dan Digital
 a. Pengertian Sinyal
     Sinyal secara umum sinyal artinya "Isyarat" atau lebih kerenya sinyal adalah suatu isyarat untuk melanjutkan atau meneruskan suatu kegiatan. Biasanya sinyal ini  berbentuk tanda-tanda, lampu-lampu, suara-suara, dll. Dalam kereta api, misalnya, sinyal berarti suatu tanda untuk melanjutkan atau meneruskan perjalanan ke tempat/stasiun berikutnya, dan biasanya sinyal ini dikirimkan oleh stasiun yang terkait. Sinyal adalah suatu besaran  fisis yang merupakan fungsi ruang, waktu atau beberapa vaiabel Besaran fisis, misalnya tegangn listrik, Intensitas cahaya, Simpangan getaran/gelombang dll .
Sinyal adalah suatu besaran fisis yang berubah terhadap waktu, ruang, ataupun dapat berubah terhadap variabel bebas lainnya, yang dimaksud dengan variabel bebas disini adalah sinyal dapat dikatakan sebagai sinyal kontinyu (dinyatakan dengan x(n)), sinyal diskrit (dinyatakan dengan x(t)), dan lain-lain


b. Pengertian Digital
                        Sinyal digital merupakan hasil teknologi yang dapat mengubah signal menjadi kombinasi urutan bilangan 0 dan 1 (juga dengan biner), sehingga tidak mudah terpengaruh oleh derau, proses informasinya pun mudah, cepat dan akurat, tetapi transmisi dengan isyarat digital hanya mencapai jarak jangkau pengiriman data yang relatif dekat.
Biasanya isyarat ini juga dikenal dengan isyarat diskret. Sinyal yang mempunyai dua keadaan ini biasa disebut dengan bit. Bit merupakan istilah khas pada isyarat digital. Sebuah bit dapat berupa nol (0) atau satu (1). Kemungkinan nilai untuk sebuah bit adalah 2 buah (21). Kemungkinan nilai untuk 2 bit adalah sebanyak 4 (22), berupa 00, 01, 10, dan 11. Secara umum, jumlah kemungkinan nilai yang terbentuk oleh kombinasi n bit adalah sebesar 2n buah.
System digital merupakan bentuk sampling dari sytem analog. digital pada dasarnya di code-kan dalam bentuk biner (atau Hexa). besarnya nilai suatu system digital dibatasi oleh lebarnya / jumlah bit (bandwidth). jumlah bit juga sangat memengaruhi nilai akurasi system digital.
Contoh kasus. ada system digital dengan lebar 1 byte (8 bit). maka nilai-nilai yang dapat dikenali oleh system adalah bilangan bulat dari 0 - 255 (256 nilai: 2 pangkat 8).
Kita bandingkan dengan system analog -- di antara angka 0 s/d 255 --... system analaog dapat menghasilkan nilai sebanyak tidak terhingga (0..0,0002... dst). Namun dengan semakin lebarnya bandwith digital (bisa hampir 3 GByte) dijaman sekarang ini membuat semakin tipisnya perbedaan antara digital dan analog system.

                 Signal digital ini memiliki berbagai keistimewaan yang unik yang tidak dapat ditemukan pada teknologi analog yaitu:

l  Mampu mengirimkan informasi dengan kecepatan cahaya yang dapat membuat informasi dapat dikirim dengan kecepatan tinggi.
l  Penggunaan yang berulang – ulang terhadap informasi tidak memengaruhi kualitas dan kuantitas informsi itu sendiri.
l  Informasi dapat dengan mudah diproses dan dimodifikasi ke dalam berbagai bentuk. Dapat memproses informasi dalam jumlah yang sangat besar dan mengirimnya secara interaktif.

Kata Digital berasal dari kata Digitus, dalam Bahasa Yunani yang berarti jari-jemari. Apabila jari-jemari seseorang dihitung, maka akan berjumlah sepuluh (10). Nilai sepuluh tersebut terdiri dari 2 radix, yaitu 1 dan 0. Oleh karena itu digital merupakan  penggambaran dari suatu kondisi  bilangan yang terdiri dari angka 0 dan 1 atau OFF  dan  ON  (sistem bilangan  biner), dapat juga disebut dengan istilah Bit (Binary Digit ).
Semua sistem komputer menggunakan sistem digital sebagai basis datanya. Peralatan canggih, seperti komputer, pada prosesornya memiliki serangkaian  perhitungan biner yang rumit. Dalam gambaran yang mudah, proses biner adalah seperti saklar pada lampu, yang memiliki 2 keadaan, yaitu OFF (0) dan ON (1).
Pada kondisi saklar lampu yang ditekan (tombol ON), maka lampu akan menyala & ruangan akan tampak terang, tapi sebaliknya jika saklar lampu tidak ditekan (tombol OFF), maka lampu tidak menyala & ruangan tampak gelap. Misalnya ada 20 buah lampu dan saklar, jika saklar itu dinyalakan dalam posisi A, maka ia akan membentuk gambar bunga, dan jika saklar itu dinyalakan dalam posisi B, maka ia akan membentuk gambar hati. Begitulah kira-kira biner digital tersebut.




2.2                   Pengelompokan Sinyal
                 Berdasarkan variabelnya, maka sinyal dapat dikatagorikan : a. Sinyal yang dapat didefinisikan dgn fungsi matematika yg jelas. Contoh : S (t) = 10t + 2 sinyal mrpk fungsi linier S (t) = 10t2 + t fs. Non linier / kuadrat S (x,t) = 10 Sin 2(x/+ t/T)
                                    fs. Ruang x dan waktu t  b. Sinyal yg tidak dapat didefinisikan dgn fungsi matematika secara jelas dan  bahkan sangat komplek. Contoh sinyal gempa, sinyal pembicaraan manusia spt
gb.1

Gambar 2.1.
contoh sinyal suara Sinyal pd gb.2.1 tsb merupakan kumpulan dari gelombang sinus dengan amplitudo dan frekuensi yg berbeda-beda yang merupakan fungsi waktu,Berdasarkan persaman sinyal tersebut, maka informasi yang dapat diamati adalah dgn mengukur amplitude, frekuensi, perubahan, dan fasa noise Berdasarkan jenis/datanya sinyal dapat dikelompokan : Sinyal Analog (continue ) -sinyal ini nilainya selalu ada (continue) dan berubah-ubah fungsi waktu - nilainya tidak bisa dipisahkan/diputus antara satu waktu dengan waktu berikutnya Sinyal digital - sinyal yang nilainya selalu kontan/tetap yaitu 0 atau 1 - nilainya dapat dianalisa secara terpisah sesuai waktu pencuplikan/sampling Pembahasan kali ini akan difokuskan pada materi tentang Sinyal Digital.


2.3                   Sinyal Digital
                 Sinyal digital merupakan sinyal data dalam bentuk pulsa yang dapat mengalami  perubahan yang tiba-tiba dan mempunyai besaran 0 dan 1. Sinyal digital hanya memiliki dua keadaan, yaitu 0 dan 1, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh derau/noise, tetapi transmisi dengan sinyal digital hanya mencapai jarak jangkau pengiriman data yang relatif dekat. Biasanya sinyal ini juga dikenal dengan sinyal diskret. Sinyal yang mempunyai dua keadaan ini biasa disebut dengan bit.
 Bit merupakan istilah khas pada sinyal digital. Sebuah bit dapat berupa nol (0) atau satu (1). Kemungkinan nilai untuk sebuah bit adalah 2 buah (21). Kemungkinan nilai untuk 2 bit adalah sebanyak 4 (22), berupa 00, 01, 10, dan 11. Secara umum, jumlah kemungkinan nilai yang terbentuk oleh kombinasi n bit adalah sebesar 2n buah. Sinyal digital adalah sinyal yang terbentuk dari bit-bit biner. Bentuknya sering digambarkan dalam bentuk persegi yang secara periodik.                   Sinyal digital mempunyai kelebihan dibandingkan dengan sinyal analog karena mempunyai kecepatan transmisi yang tinggi dibandingkan sinyal analog. Sinyal digital juga lebih tahan terhadap error dan dalam mengaplikasikan sinyal digital tidak membutuhkan peralatan yang terlalu kompleks. Selain itu jika diaplikasikan dalam transmisi audio kulaitas suara yang di transmisikan lewat sinyal digital juga lebih jernih dibandingkan dengan sinyal analog. Gambar 2.2 Sinyal Digital Teknologi digital memiliki beberapa keistimewaan unik yang tidak dapat ditemukan  pada teknologi analog , yaitu : - Mampu mengirimkan informasi dengan kecepatan cahaya yang mengakibatkan informasimdapat dikirim dengan kecepatan tinggi.

II.   Dasar Teori Sinya

2.1. Konsep Dasar Tentang Sinyal

Sinyal merupakan sesuatu yang secara kuantitatif bisa terdeteksi dan digunakan untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan fenomena fisik. Contoh sinyal yang kita temui dalam kehidupan sehari hari, suara manusia, cahaya, temperatur, kelembaban, gelombang radio, sinyal listrik, dsb. Sinyal listrik secara khusus akan menjadi pembicaraan di dalam praktikum ini, secara normal diskpresikan di dalam bentuk gelombang tegangan atau arus. Dalam aplikasi bidang rekayasa, banyak sekali dijumpai bentuk sinyal-sinyal lingkungan yang dikonversi ke sinyal listrik untuk tujuan memudahkan dalam pengolahannya.

Secara matematik sinyal biasanya dimodelkan sebagai suatu fungsi yang tersusun lebih dari satu variabel bebas. Contoh variabel bebas yang bisa digunakan untuk merepresentasikan sinyal adalah waktu, frekuensi atau koordinat spasial. Sebelum memperkenalkan notasi yang digunakan untuk merepresentasikan sinyal, berikut ini kita mencoba untuk memberikan gambaran sederhana berkaitan dengan pembangkitan sinyal dengan menggunakan sebuah sistem.

Perhatikan Gambar 2.1, yang mengilustrasikan bagaimana sebuah sistem di bidang rekayasa (engineering) dan bentuk sinyal yang dibangkitkannya. Gambar 2.1a merupakan contoh sederhana sistem rangkaian elektronika yang tersusun dari sebuah capasitor C, induktor L dan resistor R. Sebuah tegangan v(t) diberikan sebagai input dan mengalis melalui rangkaian RLC, dan memberikan bentuk output berupa sinyal sinusoida sebagai fungsi waktu seperti pada Gambar 2.1b. Notasi v(t) dan y(t) merupakan variabel tak bebas, sedangkan notasi t merupakan contoh variabel bebas. Pada Gambar 2.1c merupakan sebuah ilustrasi proses perekaman menggunakan digital audio recorder. Sedangkan Gambar 2.1d adalah contoh sinyal ouput hasil perekaman yang disajikan di dalam bentuk grafik tegangan sebagai fungsi waktu.









Gambar 2.1. Contoh gambaran sistem dan sinyal ouput yang dihasilkan


Contoh bentuk sinyal waktu kontinyu bisa dilihat seperti pada Gambar 2.2a, yang dalam hal ini memiliki bentuk sinusoida dan bisa dinyatakan dalam bentuk fungsi matematik x(t) = sin(Ï€t). Sedangkan contoh sinyal waktu diskrit bisa dibentuk dengan menggunakan bentuk dasar sinyal yang sama, tetapi nilai-nilainya muncul pada setiap interval waktu T = 0.25dt, dengan bentuk representasi matematik sebagai berikut, x[k] = sin(0.25Ï€k). Dan gambaran sinyal waktu diskrit pada sekuen dengan rentang waktu − 8 k 8 bisa dilihat seperti pada Gambar 2.2b.






2.2. Sinyal Waktu Kontinyu

Suatu sinyal x(t) dikatakan sebagai sinyal waktu-kontinyu atau sinyal analog ketika dia memiliki nilai real pada keseluruhan rentang waktu t yang ditempatinya. x(t) disebut sinyal waktu kontinyu, jika t merupakan variabel kontinyu. Sinyal waktu kontinyu dapat didefinisikan dengan persamaan matematis sebagai berikut:

f (t)€(−,)
(2-1)


Dimana f(t) adalah variabel tidak bebas yang menyatakan fungsi sinyal waktu kontinyu sebagai fungsi waktu. Sedangkan t merupakan variabel bebas, yang bernilai antara – tak hingga (-) sampai + tak hingga (+).

Hampir semua sinyal di lingkungan kita ini mseupakan sinyal waktu kontinyu. Berikut ini adalah yang sudah umum:

  Gelombang tegangan dan arus yang terdapat pada suatu rangkaian listrik

  Sinyal audio seperti sinyal wicara atau musik

  Sinyal bioelectric seperti electrocardiogram (ECG) atau electro encephalogram  (EEG)

  Gaya-gaya pada torsi dalam suatu sistem mekanik

  Laju aliran pada fluida atau gas dalam suatu proses kimia


Sinyal waktu kontinyu memiliki bentuk-bentuk dasar yang tersusun dari fungsi dasar sinyal seperti fungsi step, fungsi ramp, sinyal periodik, sinyal eksponensial dan sinyal impulse.


Fungsi Step

Dua contoh sederhana pada sinyal kontinyu yang memiliki fungsi step dapat diberikan seperti pada Gambar 2.3a. Sebuah fungsi step dapat diwakili dengan suatu bentuk matematis sebagai:

1,
t
u(t )=
(2-2)
0,
t <0

Dimana t merupakan variabel bebas bernilai dari - sampai +, dan u(t) merupakan variabel tak bebas yang memiliki nilai 1 untuk t > 0, dan bernilai 0 untuk t < 0. Pada contoh tersebut fungsi step memiliki nilai khusus, yaitu 1 sehingga bisa disebut sebagai unit step. Pada kondisi real, nilai output u(t) untuk t > 0 tidak selalu sama dengan 1, sehingga bukan merupakan unit step.






Gambar 2.3. Fungsi step dan fungsi ramp



Fungsi Ramp

Fungsi ramp (tanjak) untuk sinyal waktu kontinyu didefinisikan sebagai berikut



t,
r (t )= tu(t )=
0,



t 0

t <0




(2-3)



Dimana nilai t bisa bervariasi dan menentukan kemiringan atau slope pada r(t). Untuk contoh diatas nilai r adalah 1, sehingga pada kasus ini r(t) merupakan “unit slope”, yang mana merupakan alasan bagi r(t) untuk dapat disebut sebagai unit-ramp function. Jika ada variable K sedemikian hingga membentuk Kr(t), maka slope yang dimilikinya adalah K untuk t> 0. Suatu fungsi ramp diberikan pada Gambar 2.3b.


Sinyal Periodik

Ditetapkan  T  sebagai                 suatu  nilai     real  positif.  Suatu  sinyal  waktu  kontinyu  x(t)  dikatakan

periodik terhadap waktu dengan periode T jika :

x(t + T) = x(t) untuk semua nilai t, −< t <
(2-4)


Dalam hal ini jika x(t)  merupakan periodik pada periode T, ini juga periodik dengan qT, dimana q

merupakan nilai  integer positif. Periode fundamental merupakan nilai  positif terkecil  T  untuk

persamaan (2-5).

Suatu contoh sinyal periodik memiliki persamaan seperti berikut

x(t)=Acos(ωt+θ)
(2-5)

Dimana A adalah amplitudo, ω adalah frekuensi dalam radian per detik (rad/detik), dan θ adalah fase

dalam radian. Frekuensi f dalam hertz (Hz) atau siklus per detik adalah sebesar f = ω/2π.

Untuk melihat bahwa fungsi sinusoida yang diberikan dalam persamaan (5) adalah fungsi periodik, untuk nilai pada variable waktu t, maka:




2Ï€

= A cos(ωt +2π + θ )= A cos(ωt + θ )

A cos ω  t
+

+ θ
(2-6)




ω




Sedemikian  hingga
fungsi
sinusoida  merupakan  fungsi  periodik  dengan  periode
2Ï€/ω,   nilai  ini

selanjutnya dikenal sebagai periode fundamentalnya. Sebuah sinyal dengan fungsi sinusoida x(t) =A

cos(wt+θ) diberikan pada Gambar 2.4 untuk nilaiθ = 0, dan f = 2 Hz.



                                                                                                                



Gambar 2.4 Sinyal periodik sinusoida


Sinyal Eksponensial

Sebuah sinyal waktu kontinyu yang tersusun dari sebuah fungsi eksponensial dan tersusun dari frekuensi komplek s = σ + jωθ,bisa dinyatakan sebagai berikut:

x(t )= e
st
= e
(σ + jω0)t
= e
σt
(cosω0t+j sin ω0t)
(2-7)





Sehingga sinyal waktu kontinyu dengan fungsi eksponensial bisa dibedakan dengan memlilah komponen real dan komponen iamjinernya seperti berikut:
         komponen real Re{est}=eσt  cosω0t

         komponen imajiner Im{est}=eσt  sin ω0t


Tergantung dari kemunculan komponen real atau imajiner, dalam hal ini ada dua kondisi khusus yang banyak dijumpai pada sinyal eksponensial, yaitu

Kasus 1: Komponen imajiner adalah nol (ω0= 0)

Tanpa adanya komponen imajiner, menyebabkan bentuk sinyal eksponensial menjadi seperti

berikut

x(t) = eσt
(2-8)


Dimana x(t) merepresentasikan sebuah nilai real pada fungsi eksponensial. Gambar 2.5 memberi ilustrasi nilai real pada fungsi eksponensial pada suatu nilai σ. Ketika nilai σ negatif (σ< 0), maka fungsi eksponensial menujukkan adanya peluruhan nilai (decays) sesuai dengan kenaikan waktu t.







Kasus 2: Komponen real adalah nol (σ= 0)

Ketika  komponen  real  σ pada  frekuensi  komplek  s  adalah  nol,  fungsi  eksponensial  bisa

dinyatakan sebagai

x(t )= e jω0t=cos ω
t +  j sin ω
t
(2-9)
0
0



Dengan kata lain bisa dinyatakan bahwa bagian real dan imajiner dari eksponensial komplek adalah sinyal sinusoida murni. Contoh sinyal eksponensial komplek dengan komponen frekuensi real nol bisa dilihat seperti pada Gambar 2.5 berikut ini.













(a)  Nilai real sinyal eksponensial komplek













Sinyal Impuls

Sinyal impulse, dalam hal ini adalah fungsi unit impulse δ(t), yang juga dikenal sebagai fungsi Dirac delta atau secara lebih sederhana dinyatakan sebagai fusngi delta function, bisa didefinisikan di dalam terminologi 2 sifat berikut.



    Amplitudo



δ (t )=0,



t 0






Area sinyal tertutup



∞∫ δ(t)dt


= 1



− ∞



Penggambaran secara langsung sebuah sinyal impulse pada sinyal waktu kontinyu sebetulnya relatif sulit, yang paling umum digunakan adalah sebuah penyederhanaan. Dengan membentuk garis vertikal dengan panah menghadap ke atas seperti pada Gambar 2.6, diharapkan cukup untuk merepresentasikan sebuah sinyal yang memiliki durasi sangat sempit dan hanya muncul sesaat dengan nilai magnitudo sama dengan 1.















Gambar 2.6. Contoh sinyal impuls





III.  Perangkat Yang Diperlukan

         1 (satu) buah PC lengkap sound card dan OS Windows dan perangkat lunak Matlab

         1 (satu) flash disk dengan kapasitas yang cukup



IV.  Langkah Percobaan
4.1 Pembangkitan Sinyal Waktu Kontinyu Sinusoida

Disini kita mencoba membangkitkan sinyal sinusoida untuk itu coba anda buat program seperti berikut:

Fs=100;

t=(1:100)/Fs;

s1=sin(2*pi*t*5);

plot(t,s1)


Sinyal yang terbangkit adalah sebuah sinus dengan amplitudo Amp = 1, frekuensi f = 5Hz dan fase awal θ = 0. Diharapkan anda sudah memahami tiga parameter dasar pada sinyal sinus ini. Untuk lebih memahami coba lanjutkan dengan langkah berikut :

1.  Lakukan perubahan pada nilai s1:

s1=sin(2*pi*t*10);

Dan perhatikan apa yang terjadi, kemudian ulangi untuk mengganti angka 10 dengan 15, dan 20.

Perhatikan apa yang terjadi, plot hasil percobaan anda.

2.    Coba anda edit kembali program anda sehingga bentuknya persis seperti pada langkah1, kemudian lanjutkan dengan melakukan perubahan pada nilai amplitudo, sehingga bentuk perintah pada s1 menjadi:

s1=5*sin(2*pi*t*5);

Coba perhatikan apa yang terjadi? Lanjutkan dengan merubah nilai amplitudo menjadi 10, 15 dan

20. Apa pengaruh perubahan amplitudo pada bentuk sinyal sinus?

3.      Kembalikan program anda sehingga menjadi seperti pada langkah pertama. Sekarang coba anda lakukan sedikit perubahan sehingga perintah pada s1 menjadi:

s1=2*sin(2*pi*t*5 + pi/2);

Coba anda perhatikan, apa yang terjadi? Apa yang baru saja anda lakukan adalah merubah nilai fase awal sebuah sinyal dalam hal ini nilai θ = π/ 2 = 90o. Sekarang lanjutkan langkah anda dengan merubah nilai fase awal menjadi 45o, 120o, 180o, dan 270o. Amati bentuk sinyal sinus terbangkit, dan catat hasilnya. Plot semua gambar dalam satu figure dengan perintah subplot.




4.2 Pembangkitan Sinyal Waktu Kontinyu Persegi

Disini akan kita bangkitkan sebuah sinyal persegi dengan karakteristik frekuensi dan amplitudo yang sama dengan sinyal sinus. Untuk melakukannya ikuti langkah berikut ini :

1.        Buat sebuah m file baru kemudian buat program seperti berikut ini. Fs=100;

t=(1:100)/Fs;

s1=SQUARE(2*pi*5*t);

plot(t,s1,'linewidth',2) axis([0 1 -1.2 1.2])








Coba anda lakukan satu perubahan dalam hal ini nilai frekuensinya anda rubah menjadi 10 Hz, 15 Hz, dan 20 Hz. Apa yang anda dapatkan? Plot semua gambar dalam satu figure dengan perintah subplot.

3.      Kembalikan bentuk program menjadi seperti pada langkah pertama, Sekarang coba anda rubah nilai fase awal menjadi menjadi 45o, 120o, 180o, dan 225o. Amati dan catat apa yang terjadi dengan sinyal persegi hasil pembangkitan. Plot semua gambar dalam satu figure dengan perintah subplot.

4.3. Pembangkitan Sinyal Dengan memanfaatkan file *.wav

Kita mulai bermain dengan file *.wav. Dalam hal ini kita lakukan pemanggilan sinyal audio yang ada dalam hardisk kita. Langkah yang kita lakukan adalah seperti berikut :

1.     Anda buat m file baru, kemudian buat program seperti berikut : y1=wavread('namafile.wav');

Fs=10000;

wavplay(y1,Fs,'async') % Memainkan audio sinyal asli

2.    Cobalah untuk menampilkan file audio yang telah anda panggil dalam bentuk grafik sebagai fungsi waktu. Perhatikan bentuk tampilan yang anda lihat. Apa yang anda catat dari hasil yang telah anda dapatkan tsb?

4.4. Pembangkitan Sinyal Kontinyu Fungsi Ramp

Sebagai langkah awal kita mulai dengan membangkitkan sebuah fungsi ramp. Sesuai dengan namanya, fungsi ramp berarti adalah tanjakan seperti yang telah ditulis pada persamaan (3). Untuk itu anda ikuti langkah berikut ini. Buat program baru dan anda ketikkan perintah seperti berikut :

%Pembangkitan Fungsi Ramp
y(1:40)=1;

x(1:50)=[1:0.1:5.9];

x(51:100)=5.9;

t1=[-39:1:0];

t=[0:1:99];

plot(t1,y,'b',t,x,'linewidt',4)

title('Fungsi Ramp')

xlabel('Waktu (s)')

ylabel('Amplitudo')

II.   Operasi Dasar Pada Sinyal dengan Variabel Tak Bebas

Masalah mendasar pada proses pembelajaran pengolahan sinyal adalah bagaimana menggunakan sistem untuk melakukan pengolahan atau melakukan manipulasi terhadap sinyal. Pembicaraan ini biasanya melibatkan kombinasi pada beberapa operasi dasar. Ada dua kelas di dalam operasi dasar sinyal. Yang pertama adalah operasi yang dibentuk oleh variabel tidak bebas yang meliputi amplitude scaling (penguatan / pelemahan), addition, mutiplication. Yang kedua adalah operasi yang dibentuk dengan variabel bebas, meliputi time scaling, reflection, dan time shifting .

2.1. Amplitude Scaling

Apmlitude Scaling bisa berupa penguatan jika faktor pengali lebih besar dari 1, atau menjadi pelemahan jika faktor pengali kurang dari 1.


Penguatan Sinyal

Peristiwa penguatan sinyal seringkali diumpai pada perangkat audio seperti radio, tape, bahkan pada transmisi gelombang radio yang berkaitan dengan multipath, dimana masing-masing sinyal datang dari Tx ke Rx akan saling menguatkan apabila fase sinyal sama. Fenomena ini dapat juga direpresentasikan secara sederhana sebagai sebuah operasi matematika sebagai berikut:

y(t) = amp x(t)
(4-1)

dimana:

y(t) = sinyal output

amp = konstanta penguatan sinyal

x(t) = sinyal input


Bentuk diagram blok dari sebuah operasi pernguatan sinyal dapat diberikan pada gambar berikut ini.

Sinyal

Operation

Sinyal
Masuk

Amplifier

Keluar






Gambar 4.1. Diagram blok penguatan suatu sinyal






Praktikum Sinyal dan Sistem
Modul 4 Operasi Dasar Sinyal 1

Besarnya nilai konstanta sinyal amp >1, dan penguatan sinyal seringkali dinyatalan dalam besaran deci Bell, yang didefinisikan sebagai:

amp_dB = 10 log(output/input)
(4-2)

Dalam domain waktu, bentuk sinyal asli dan setelah mengalami penguatan adalah seperti gambar berikut.












Pelemahan Sinyal

Apabila sebuah sinyal dilewatkan suatu medium seringkali mengalami berbagai perlakuan dari medium (kanal) yang dilaluinya. Ada satu mekanisme dimana sinyal yang melewati suatu medium mengalami pelemahan energi yang selanjutnya dikenal sebagai atenuasi (pelemahan atau redaman) sinyal.

Bentuk diagram blok dari sebuah operasi pernguatan sinyal dapat diberikan pada gambar berikut ini.

Sinyal

Media Transmisi

Sinyal
Masuk

(Kanal)

Keluar






Gambar 4.3 Operasi Pelemahan suatu sinyal
Dalam  bentuk  operasi  matematik  sebagai  pendekatannya,  peristiwa  ini  dapat  diberikan

sebagai berikut:

y(t) = att x(t)
(4-3)

Dalam hal ini nilai att< 1, yang merupakan konstanta pelemahan yang terjadi. Kejadian ini sering muncul pada sistem transmisi, dan munculnya konstanta pelemahan ini dihasilkan oleh berbagai proses yang cukup komplek dalam suatu media transmisi.



Praktikum Sinyal dan Sistem
Modul 4 Operasi Dasar Sinyal 1














Gambar 4.4. Pelemahan Sinyal

Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa proses penguatan dan pelemahan sinyal merupakan dua hal yang hampir sama. Dalam pengatan sinyal amplitudo sinyal output lebih tinggi dibanding sinyal input, sementara pada pelemahan sinyal amplitudo sinyal output lebih rendah disbanding sinyal input. Tetapi pada kedua proses operasi ini bentuk dasar sinyal tidak mengalami perubahan.

2.2.  Addition

Proses penjumlahan sinyal seringkali terjadi pada peristiwa transmisi sinyal melalui suatu medium. Sinyal yang dikirimkan oleh pemancar setelah melewati medium tertentu misalnya udara akan mendapat pengaruh kanal, pengaruh tersebut tentunya akan ditambahkan pada sinyal aslinya. Misal Sinyal informasi yang terpengaruh oleh noise atau sinyal lain dari kanal, maka secara matematis pada sinyal tersebut pasti terjadi proses penjumlahan. Sehingga pada bagian penerima akan mendapatkan sinyal sebagai hasil jumlahan sinyal asli dari pemancar dengan sinyal yang terdapat pada kanal tersebut.









Sinyal Hasil
Sinyal 1








Jumlahan























Sinyal 2

Gambar 4.5. Diagram blok operasi penjumlahan dua sinyal.

Contoh penjumlahan dari 2 buah sinyal dengan amplitudo sama tetapi frekuensi berbeda bisa dilihat pada Gambar 4.6.












Gambar 4.6. Contoh operasi penjumlahan dua sinyal








BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

 Signal digital sering disebut juga dengan diskrit. Signal ini tersusun atas dua keadaan yang dikenal dengan bit yaitu keadaan 0 dan keadaan 1. Sinyal digital merupakan sinyal data dalam bentuk pulsa yang dapat mengalami perubahan yang tiba- tiba dan mempunyai besaran 0 dan 1. Sinyal digital hanya memiliki dua keadaan, yaitu 0 dan 1, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh derau/noise, tetapi transmisi dengan sinyal digital hanya mencapai jarak jangkau pengiriman data yang relatif dekat. Sinyal- sinyal digital dapat disimpan pada media magnetic tanpa mengalami pelemahan atau distorsi data sinyal yang bersangkutan. Dengan demikian sinyal tersebut dapat dipindah  pindahkan serta diproses dengan mudah tanpa terlalu banyak mengurangi kualitas data.. Umumnya sinyal dalam bentuk analog sulit untuk diproses secara matematik dengan akurasi yang tinggi. Kelebihan lain dari sistem sinyal digital ini adalah biaya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan sinyal analog dalam pemberosesannya.
 


































DAFTAR PUSTAKA

















 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar